Tampilkan postingan dengan label Flash Back. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Back. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Maret 2010

IBU


“Assalamualaikum…teman2 mohon doanya, ibunya mbak ida kritis, insyaallah besok sehabis pengajian sore di mushala deket rumahq kita kesana ya…”

Kalimat di atas adalah bunyi sms dari mbak yanti (teman sekaligus ustadzah q) yang kuterima pagi ini jam 05.15 WIB Tanggal 02 Januari 2010. Setelah membaca sms itu anganku melayang menembus dimensi masa tujuh bulan yang lalu,tepatnya bulan agustus di hari ke sepuluh. Ibu ku mengerang kesakitan di kamar ketika aku pulang bersama temanku, temanku berasal dari lamongan, dia ikut ke rumah karena baru saja mendaftar kuliah di malang dan aku yang mengantarkannya). Tidak seperti biasanya, ibuku yang selalu menyambut hangat kedatanganku dan teman-temanku (disertai dengan cipika-cipikinya), hari itu cuma menemuiku sebentar dan memohon maaf kepada temanku kalau saat itu tidak bisa menghormati tamu dengan baik.

Aku sadar..Ibu pasti sedang sakit, meskipun cemas aku tidak berbuat apa-apa, bingung memikirkan keadaan ibu en temenku yang lagi membutuhkan pertolonganku. Keesokan paginya aku terpaksa meminta kakakku mengantar temanku pulang (*seolah mengusir) sedangkan aku ditemani kakak sepupuku membawa ibu ke rumah sakit.

Sesaat di UGD ibuku diperiksa sedangkan aku mengurus segala tetek bengek administrasi dan mengantarkan sample darah ke laboratorium. Setelah hasil test darah keluar dokter memvonis bahwa ibu terkena serangan jantung, diabetes, dan darah tinggi, serta penyakit lain yang saat itu belum ter-diagnosa, yang dua hari kemudian diketahui bahwa itu adalah penyakit usus buntu yang menyebabkan ibuku harus menjalani operasi, kombinasi penyakit alias komplikasi yang cukup berbahaya.

Mendengar vonis dokter dan erangan ibuku yang begitu memilukan, saat itu ketenangan hatiku hampir retak dan pecah berganti kesedihan dan penyesalan… menyesal karena perasaan bersalah merasa kurang memperhatikan ibuku, sedih karena takut kalau waktu kebersamaanku dengannya… ahh..aku bahkan tidak berani memikirkannya…

Selama empat tahun terakhir aku memang terlalu asyik dengan padatnya aktivitasku, bekerja sambil kuliah membuat sehari 24 jam, seminggu tujuh hari terasa kurang bagiku, aku berusaha menembus batas waktu. Seringkali aku hanya tidur selama 20 menit sekedar untuk melemaskan urat syarafku setelah semalaman bekerja (shift malam), mandi, makan seperti orang kesetanan, kemudian melanjutkan tidurku di dalam bus selama dalam perjalanan dari Gempol ke Kota malang (itupun kalo mendapatkan tempat duduk), bukan perjalanan ke rumah, tetapi ke kampus tercinta, mengejar cita-cita, yang hingga detik ini masih berwujud cita-cita.

Saat itu, bagiku kuliah merupakan saat refreshing setelah penat bekerja. Pelajaran dari Bapak Ibu dosen seolah mencairkan kembali otak kiri ku yang hampir membeku, perjuangan luar biasa yang kulalui benar-benar menempa otak kanan dan hatiku. Aku yang dulu melalaikanNYA, kembali takluk dalam belaian kasihNYA manakala aku merasa bahwa dunia tak lagi punya rasa iba, saat derita mendera, saat asa kurasakan hanya akan menjadi asa dan semua akan sia-sia, saat dada ini kurasakan sesak, buncah dan hanya menghasilkan butiran-butiran kristal disudut mata.

Tak jarang rasa iri menyergap hatiku, kenapa untuk kuliah saja, aku harus melalui perjuangan sehebat ini?? Rasa iri itu begitu halus menyelusup ke dalam lubuk hatiku. Kenapa aku tidak seperti remaja lainnya, yang bisa bersantai ria, menikmati masa muda. Perasaan itu menekanku dengan sangat kuat manakala aku melihat sekumpulan remaja bermain basket, jalan-jalan, berdiskusi, mengikuti seminar, membaca papan informasi tentang berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM), melihat orang-orang yang dengan santainya membaca buku di perpus, seolah-olah mencermati setiap susunan huruf, menikmati setiap rangkaian kata, memahami setiap sulaman kalimat, berusaha menahan semua yang masuk ke kepala agar tetap di kepala…Ah..saat itu aku begitu iri…

Sejak kecil aku memang telah berikrar bahwa aku akan melanjutkan ke jenjang tertinggi dalam hierarki pendidikan, bahkan aku pernah mengatakan ingin menjadi Doktor, padahal saat itu aku tidak tahu bahwa gelar Dr merupakan gelar akademik tertinggi dan untuk menjadi Dr harus menempuh jenjang strata 1, strata 2, dan strata 3. Aku juga tidak tahu bahwa selain gelar akademik ada gelar kehormatan seperti professor dan guru besar. Mungkin ikrarku itu menyerupai ikrar Khairul Azam dan berakhir sama pula dengannya, yaitu menimba ilmu dari Universitas Besar Kehidupan.Tapi aku tak sehebat Khairul Azam yang dapat membiayai kehidupan keluarganya dan dapat menghafal Al Quran. Jangankan menghafal, mengkhatamkan dalam setahun aja bisa dihitung tanpa bantuan jari tangan,,,memalukan, yang begini masih mengaku muslimah sejati???

Seiring berjalannya sang waktu, akupun mulai mengkompromikan mimpi-mimpiku, bukan karena putus asa, bukan karena tak yakin dapat meraihnya, akan tetapi karena aku tak tahu kenapa aku menginginkannya. Aku hanyalah gadis biasa, impian terbesarku adalah menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama. Tapi bagaimana caranya? Jawabannya masih di ujung sana, dan hingga helaan nafasku ketika jemariku menekan key board note book ku menulis kalimat ini, aku masih belum tahu jawabannya, tapi aku akan tetap memelihara asa dalam jiwa dan berusaha mewujudkannya, agar kelak ketika aku menghadapNYA, aku dapat memandang keindahan cahayaNYA.

to Be Continued

Kamis, 04 Februari 2010

Susahnya jadi sarjana # 3

MySpace

Aku masih teringat, 3 bulan yang lalu orang-orang masih bertanya kepadaku, kapan resign?? duh…keterlaluan…mau gak mau aku jadi sebel juga, masa’ mereka mengharapkan aku resign?? tapi kalau mau mengambil positifnya sich…Aku mengerti kalau mereka ingin agar aku terus maju, tidak hanya berhenti sampai disini. Mereka menganggap kalau aku tidak pantas disini karena aku memiliki potensi untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar…
OK lah kalau begitu, terimakasih bagi semua orang yang telah berfikiran seperti itu, tapi saat itu aku sebel…sebelllllll banget… (baca-nya gimana hayooo…), Aku udah berusaha, rizki tak jua bersua, lantas ini salah siapa, jangan bilang ini salah bunda ya… dan yang jelas juga bukan salah panda…(soalnya pandanya masih ada di hutan…hik...hik...)Tapi, akhirnya Allah menolongku jua… Hmm…Akhirnya aku resign juga…Selamat tinggal semua…

susahnya jadi Sarjana # 2

Yang namanya manusia itu memang nggak ada puasnya. Tapi tergantung manusianya juga sich… kalau tidak pandai bersyukur, ya… pastinya akan selalu merasa kurang dengan apa yang telah didapatkan. Begitu juga dengan diriku beberapa waktu yang lalu. Sesaat setelah lulus kuliah aku merasa bahwa perjuanganku selama hampir empat tahun (baca:kuliah) kurasakan sia-sia. Apa pasalnya??
Masalahnya sederhana saja, hanya karena setelah lulus kuliah aku tidak segera mendapatkan pekerjaan yang menurut orang-orang (menurutku juga sich…Saat itu, bukan sekarang) menjadi tolak ukur bagi keberhasilan seseorang. Semua orang di tempat kerja bertanya, “sudah melamar kerja kemana??”, “sayang loh ijazah S1-nya kalau nggak dimanfaatkan”, “masa’ lulusan S1 bekerja sebagai OP (operator produksi)”, dan yang lebih menyakitkan lagi ada juga yang membawa-bawa gelarku ketika terjadi masalah di tempat kerja, (kata temen-temen sich…orang yang seperti itu karena tidak menyukaiku, betul ga ya??? Ah…I don’t care..) Cerita lengkapnya tentang masalah ini akan kuceritakan di lain edisi, janji dech…Uups… (Insyaallah).
Semua pertanyaan itu lama-lama membuatku berfikir bahwa aku harus secepatnya mencari pekerjaan lain. Aku sudah tidak memperdulikan lagi statusku sebagai karyawan tetap dengan segala fasillitas yang seharusnya bisa kunikmati. Dan yang lebih parah lagi di dalam berdo’a aku seakan-akan “memaksa” TUHAN untuk mengabulkan rencana dan keinginanku. Bukankah TUHAN memiliki rencana yang lebih baik dan tahu yang terbaik bagi hambaNYA???
Akupun mulai melakukan segala cara (tapi halal loh…), mulai dari mengikuti pelatihan recruitment yang diadakan di kampus, mengintip bursa kerja, berburu koran (bukan berarti jadi pengepul Koran bekas loh…, tapi koran yang ada info lowongan pekerjaan itu loh), ikut tes CPNS (padahal aku tidak ada keinginan untuk menjadi PNS, mengenai hal ini akan kuceritakan lain kali aja..) sampai bertanya tentang lowker ke teman-teman yang bekerja di perusahaan lain.
Jadi teringat nyanyian seorang pengamen di bus antar kota, “Andai saja aku anak Pak Peny Walikota, aku tak kan terhina, pikir-pikir daripada ku melamar kerja, lebih baik ku menunggu di lamar” hik..hik..>>>>>
Hmmm…, akhirnya…Banyak sekali lowongan yang kudapatkan, lowongan yang menurutku menarik (tapi entah mengapa hati ini nggak pernah sreg…) segera kudatangi, karena banyak juga sich lowongan yang nggak menarik... Yach…namanya juga manusia….bisanya hanya usaha, perkara hasil mana punya kuasa??

susahnya jadi sarjana # 1

Aku menulis tentang “susahnya jadi sarjana” sama sekali tidak bermaksud mengecilkan hati teman-teman yang saat ini masih menempuh pendidikan, di jenjang apapun itu. Aku Cuma ingin mengingatkan, luruskanlah niat, dan belajarlah dengan giat. Nah…Masalah meluruskan niat ini aku akan menulis pada bab tersendiri, bukan disini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa jumlah pengangguran di negeri tercinta ini “yang bertitel sarjana” tidaklah sedikit. Perkaranya akan berbeda kalau yang menganggur itu hanya (maaf) lulusan SD-SMA. Soalnya, pernah ga sich temen-temen mendengar orang berkata, “oaalaah..buat apa sekolah tinggi-tinggi (baca:kuliah), kalau ujung-ujungnya Cuma jadi pengangguran.
Atau ada juga yang bilang, “Itu, Si A atau Si B, tetanggaku lulusan perguruan tinggi sekarang kerjanya Cuma jualan nasi goreng. Kalau kayak gitu sich…lulusan SD juga bisa…” Bahkan ada yang memvonis “RUGI”.
Nah…permasalahannya ada dimana?? Masalahnya adalah paradigma masyarakat tentang bagaimana seharusnya para sarjana. Kita tidak bisa begitu saja merubah paradigma masyarakat bahwa lulusan perguruan tinggi (baca: Terutama penyandang gelar Sarjana) harus bisa lebih baik dalam segala hal (sikap hidup, pekerjaan, status/jabatan, penghasilan yang imbasnya ke masalah financial), yach…intinya harus bisa aktualisasi diri gitu lah…Nah, ironisnya lagi paradigma itu sekarang telah berkembang menjadi sebuah “tuntutan”.
Kalau masalah sikap hidup sich..aku setuju, tapi kalau sudah masalah pekerjaan, jabatan dan jumlah penghasilan itu kaitannya dengan rejeki, kita hanya bisa usaha. Perkara hasil, MUTLAK urusan YANG KUASA. Yang penting maksimalkan ikhtiar dan do’anya.
Hmm…Idealnya sich… para sarjana sekarang harus bisa menciptakan lapangan kerja, bukan malah berburu Koran terus ngalor ngidul bawa map mencari kerja. Tapi “itu” kan (baca: menciptakan lapangan kerja) bukan hal mudah, semudah membalik telapak tangan…Bukan berarti ga bisa, tapi ga semua orang bisa.
So, siapa saja yang saat ini masih kuliah atau udah lulus tapi masih belom bekerja, atau sudah bekerja tetapi tidak sesuai dengan kualifikasi yang dimilikinya, ga usah kuatir…jangan pedulikan orang mau ngomong apa, ga ada pepatah “anjing menggonggong kafilah ikut menggonggong, yang ada anjing menggonggong kafilah tetep berlalu”. Nah…siapa anjingnya en siapa kafilahnya hayooo….Jangan bilang yang nulis jadi ******nya ya…
Tapi bukan berarti kita akan pasrah menerima nasib, kita harus ikhtiar… berusaha terus, jangan pernah malu mengerjakan pekerjaan apapun, yang penting “HALALAN TOYYIBAN”. Dan yang penting berdo’a dan yakinlah bahwa ALLAH maha kaya, ALLAH Yang punya Kuasa melapangkan dan menyempitkan rizki bagi siapapun yang dikehendakiNYA, ALLAH MAha Pemberi, ALLAH Maha Pemberi Rizki, ALLAH Maha Rahman, ALLAH Maha Rakhim, ALLAH Maha Mendengar, Maha Melihat, ALLAH dekat dengan kita melebihi urat nadi kita, dan ALLAH mengabulkan do’a siapapun apabila ia berdo’a kepadaNYA.
Yang jelas, dengan keagungan NAMA dan SifatNYA yang dimanifestasikan dalam 99 namaNYA, nggak ada kata sedih apalagi putus asa. SO, ENJOY AJA>>>>>>