Ada beberapa orang yang seolah menyayangkan atau ada yang secara terang-terangan mentertawakan keputusan saya untuk bekerja di sebuah perusahaan yang “hanya” berstatus CV dan ada yang bertanya kenapa kok gak berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan jenjang pendidikannya??
Mula-mula hal itu cukup mengganggu, tapi seiring berjalannya waktu semua terasa biasa saja dan Allah selalu memberi hikmah di balik segala kejadian dalam hidup ini.
Salah satu hikmah dari keputusan saya untuk kembali ke kota kelahiran adalah saya jadi memiliki kesempatan untuk ikut membantu organisasi yang bergerak dalam bidang, social, keperempuan dan keagamaan dan saya jadi memiliki kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat yang selama ini hanya saya kenal melalui buku-bukunya, seperti sepasang suami istri penulis, Bang Isa Alamsyah dan Mbak Asma Nadia, Bang Ahmad Fuadi, penulis novel inspiratif Negeri 5 Menara yang InsyaAllah segera di film kan, bertemu dengan jurnalis yang menjadi relawan kapal kemanusiaan Freedom Flotilla (mbak Santi dan mas Dzkirullah), dan beberapa penulis lain. Tentu saja bertemu dan mendengar testimony perjalanan hidup para mentor (*penulis) sangat berarti bagi orang kecil dengan cita-cita besar ingin menjadi penulis seperti saya. Saya senang belajar dari pengalaman mereka dan mendapatkan pesan-pesan yang kadang secara norak saya minta mereka untuk menuliskan di buku dan ditanda tangani.
Ketika sedang muhasabah saya teringat satu pesan Mbak Asma Nadia kepada saya ketika saya bertanya tentang bagaimana cara mendapatkan ide untuk menulis. Pesan Mbak Asma adalah “dengan cara membuka hati dan fikiran, tadabbur alam, perhatikan lingkungan, dengarkan curhat dan keluh kesah teman-teman, menulislah dari hati dan ikhlaskan niat karena Allah.
Astaghfirullah…Pesan sederhana yang ternyata sama sekali belum bisa saya praktekkan. Bagaimana tidak, beberapa waktu lalu seseorang yang sebenarnya hanya saya kenal melalui jejaring sosial ym bercerita tentang bagaimana hubungannya dengan kekasihnya kandas padahal sudah berstatus tunangan. Penyebabnya adalah karena sang cewek berselingkuh sehingga teman ym saya itu memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan, tentu saja setelah melakukan tabayyun dan shalat istikharah. Subhanallah, untuk melupakan rasa sakit akibat pengkhianatan itu teman saya menyibukkan diri dengan bekerja dan aktivitas yang bermanfaat lainnya serta berikhtiar kembali mencari takdir Allah yang terbaik yang telah ditetapkan bagi semua hambaNYA.
Dan komentar yang saya berikan atas cerita teman saya tersebut adalah sebuah jawaban paling menyebalkan, tidak ada rasa empati, dan mungkin terdengar sok bergaya sufi, atau mungkin juga munafik. Komentar saya adalah “kalau saya sih belum pernah pacaran jadi tidak tahu tentang hal-hal seperti itu, setidaknya ada hikmahnya, jadi lain kali ta’aruf aja”
Bussyett… saya sendiri malu dengan jawaban saya, padahal saya sendiri masih agak trauma dengan cerita-cerita pengkhianatan seperti itu karena salah satu saudara saya pernah mengalami kecelakaan hingga amnesia karena mengendarai motor sambil melamun, memikirkan pasangannya yang berselingkuh. Bukankah teman saya tadi lebih tegar dan lebih baik kecerdasan emosinya dibandingkan saudara saya yang sampai amnesia.
Astaghfirullah…. Bahkan saya seolah lupa kalau saya sendiri belum menemukan
"Dan jika Mereka bermaksud hendak menipumu,
maka sesungguhnya cukuplah Allah menjadi pelindung bagimu"
(Q.S. 8:62)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar