Kamis, 30 Desember 2010

Maaf, adik beragama apa??

Saya memakai jilbab lumayan terlambat, yaitu ketika usia saya sudah mencapai 20 tahun dan saya sudah duduk di bangku kuliah semester 5. Alhamdulillah, saya bersyukur karena Allah memberi hidayah dan kesempatan kepada hamba NYA yang lemah iman ini.


Suatu pagi di mikrolet ketika saya berangkat kuliah saya bertemu dengan seorang Ibu dengan penampilan yang sangat rapi, rambut pendek, rok sepan hitam dipadukan dengan baju berwarna gelap, sepatu high hill, dan berkacamata, sekilas tampak laiknya seorang guru. Dia memegang buku sehingga semakin meyakinkan saya bahwa Ibu yang duduk dihadapan saya adalah seorang guru. Entah bagaimana awalnya, kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup seru, mulai topik kecil, seperti tujuan perjalanan kami masing-masing, rumah kami, hingga ke masalah-masalah yang lebih besar dan serius yang sebenarnya bukanlah kapasitas kami untuk membicarakannya seperti isu-isu korupsi di negeri ini dan sebagaimana biasa, sudah saya tebak, ketika membicarakan masalah yang memalukan itu akhirnya kami membahas krisis ekonomi yang melanda Indonesia di tahun 1997/1998 yang menjadi titik tolak berbagai krisis di bidang lain seperti krisis moral, krisis kepercayaan dan lain sebagainya.


Pembicaraan itu terasa semakin seru, dengan gaya sok bijaknya persis seperti guru PPKN Ibu tersebut mengutip ayat-ayat injil sebagai peringatan betapa krisis yang melanda negeri ini adalah peringatan dari Tuhan. Dengan sedikit jengkel karena gaya bicaranya yang “sok” serta menganggap bahwa saya seiman dengan dia,( setidaknya saya merasa begitu), saya menjawab, “di Al qur’an juga sudah dijelaskan kok Bu,,,”. Kalimat saya yang terdengar gagah itu terputus dan patah rasanya lidah ini, saya jengkel sekali,,, bagaimana tidak, ibu tersebut berkata “sebenarnya dalam kitab kita sudah dijelaskan,,,,,bla…bla…bla…”


Kata “kitab kita” yang ternyata injil itu sangat membuat saya geram Karena saya merasa bahwa ibu di depan saya ini menganggap saya seiman dengan dia. Dan saya lebih marah lagi ketika Ibu yang ternyata dari tadi memegang injil itu bertanya, “Maaf, adik beragama apa?”


Pertanyaan sederhana menyangkut hal yang sangat fundamental meskipun diajukan dengan cara yang sopan dan hati-hati terasa sangat frontal, rasanya menohok tepat di ulu hatiku, melampaui semua batas pemikiranku dan entah bagaimana tiba-tiba mengubah semua pemahamanku. Ya,,,,,mengubah pemahamanku tentang jilbab, hakikat tentang mengapa Allah mensyariatkan jilbab bagi muslimah.

Identitas…. Iya… Identitas… Selain untuk melindungi aurat wanita, jilbab merupakan identitas seorang muslimah. Jika seorang wanita memakai jilbab, tanpa memberitahukan agamanya pun orang lain akan tahu bahwa dia adalah seorang muslimah.


Selama ini memang belum ada yang bertanya tentang agama saya, tentu saja karena saya tinggal di lingkungan dimana orang-orang telah mengenal saya dengan baik, mereka tahu kalau saya shalat, saya juga menjalankan puasa dan ritual lain, kalaupun saya pernah mendapat pertanyaan tentang apa agama saya, paling hanya pada saat mengisi formulir. Itu saja… selebihnya belum pernah.


Astaghfirullah….


Rasa geram dan jengkel saya kepada Ibu yang ada dihadapan saya itu tiba-tiba pecah berganti buncah, marah, menyesal, sedih, malu dan… entahlah… berbagai rasa bercampur aduk jadi satu…ragam rasa itu tentu tidak lagi tertuju pada ibu tadi, tapi kepada diriku sendiri.


Ya… Saya malu… Bagaimana mungkin saya mengaku sebagai seorang muslimah jika saya belum memakai jilbab, saya marah pada diri saya sendiri kenapa tidak memakai jilbab sehingga orang lain tidak perlu lagi bertanya tentang apa agama saya, saya juga sedih dengan diri saya sendiri, memang apa yang ingin saya tunjukkan ke orang lain dari bagian tubuhku yang tak selayaknya boleh dilihat orang lain, bukankan Allah Yang Maha Menciptakan telah mensyariatkan untuk menutupinya?? Lalu apa hak ku memamerkan rambut dan tangan yang sejatinya bukan milikku ini?? Dan saya menyesal kenapa saya mengabaikan syariatNYA, syariat yang sebenarnya untuk kebaikan diri saya sendiri, syariat yang DIA buat sebagai wujud Kasih Sayang NYA kepada hambaNYA yang bernama wanita. Ya… saya terlalu arogan dan berani menentang ketetapanNYA dan menantang panasnya neraka.

“Ya Allah… berilah hambaMU yang lemah iman ini kesempatan untuk memperbaiki diri, Hamba telah mendzolimi diri hamba sendiri, jika ENGKAU tidak menolongku, maka aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi, hamba bertaubat kepadaMU, maka ampunilah dosa-dosaku dan tutupilah aibku. Amiin…”


Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya1, ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Ahzab : 59)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nur : 31)

Tidak ada komentar: