Kamis, 04 Februari 2010

susahnya jadi sarjana # 1

Aku menulis tentang “susahnya jadi sarjana” sama sekali tidak bermaksud mengecilkan hati teman-teman yang saat ini masih menempuh pendidikan, di jenjang apapun itu. Aku Cuma ingin mengingatkan, luruskanlah niat, dan belajarlah dengan giat. Nah…Masalah meluruskan niat ini aku akan menulis pada bab tersendiri, bukan disini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa jumlah pengangguran di negeri tercinta ini “yang bertitel sarjana” tidaklah sedikit. Perkaranya akan berbeda kalau yang menganggur itu hanya (maaf) lulusan SD-SMA. Soalnya, pernah ga sich temen-temen mendengar orang berkata, “oaalaah..buat apa sekolah tinggi-tinggi (baca:kuliah), kalau ujung-ujungnya Cuma jadi pengangguran.
Atau ada juga yang bilang, “Itu, Si A atau Si B, tetanggaku lulusan perguruan tinggi sekarang kerjanya Cuma jualan nasi goreng. Kalau kayak gitu sich…lulusan SD juga bisa…” Bahkan ada yang memvonis “RUGI”.
Nah…permasalahannya ada dimana?? Masalahnya adalah paradigma masyarakat tentang bagaimana seharusnya para sarjana. Kita tidak bisa begitu saja merubah paradigma masyarakat bahwa lulusan perguruan tinggi (baca: Terutama penyandang gelar Sarjana) harus bisa lebih baik dalam segala hal (sikap hidup, pekerjaan, status/jabatan, penghasilan yang imbasnya ke masalah financial), yach…intinya harus bisa aktualisasi diri gitu lah…Nah, ironisnya lagi paradigma itu sekarang telah berkembang menjadi sebuah “tuntutan”.
Kalau masalah sikap hidup sich..aku setuju, tapi kalau sudah masalah pekerjaan, jabatan dan jumlah penghasilan itu kaitannya dengan rejeki, kita hanya bisa usaha. Perkara hasil, MUTLAK urusan YANG KUASA. Yang penting maksimalkan ikhtiar dan do’anya.
Hmm…Idealnya sich… para sarjana sekarang harus bisa menciptakan lapangan kerja, bukan malah berburu Koran terus ngalor ngidul bawa map mencari kerja. Tapi “itu” kan (baca: menciptakan lapangan kerja) bukan hal mudah, semudah membalik telapak tangan…Bukan berarti ga bisa, tapi ga semua orang bisa.
So, siapa saja yang saat ini masih kuliah atau udah lulus tapi masih belom bekerja, atau sudah bekerja tetapi tidak sesuai dengan kualifikasi yang dimilikinya, ga usah kuatir…jangan pedulikan orang mau ngomong apa, ga ada pepatah “anjing menggonggong kafilah ikut menggonggong, yang ada anjing menggonggong kafilah tetep berlalu”. Nah…siapa anjingnya en siapa kafilahnya hayooo….Jangan bilang yang nulis jadi ******nya ya…
Tapi bukan berarti kita akan pasrah menerima nasib, kita harus ikhtiar… berusaha terus, jangan pernah malu mengerjakan pekerjaan apapun, yang penting “HALALAN TOYYIBAN”. Dan yang penting berdo’a dan yakinlah bahwa ALLAH maha kaya, ALLAH Yang punya Kuasa melapangkan dan menyempitkan rizki bagi siapapun yang dikehendakiNYA, ALLAH MAha Pemberi, ALLAH Maha Pemberi Rizki, ALLAH Maha Rahman, ALLAH Maha Rakhim, ALLAH Maha Mendengar, Maha Melihat, ALLAH dekat dengan kita melebihi urat nadi kita, dan ALLAH mengabulkan do’a siapapun apabila ia berdo’a kepadaNYA.
Yang jelas, dengan keagungan NAMA dan SifatNYA yang dimanifestasikan dalam 99 namaNYA, nggak ada kata sedih apalagi putus asa. SO, ENJOY AJA>>>>>>

Tidak ada komentar: