
“Assalamualaikum…teman2 mohon doanya, ibunya mbak ida kritis, insyaallah besok sehabis pengajian sore di mushala deket rumahq kita kesana ya…”
Kalimat di atas adalah bunyi sms dari mbak yanti (teman sekaligus ustadzah q) yang kuterima pagi ini jam 05.15 WIB Tanggal 02 Januari 2010. Setelah membaca sms itu anganku melayang menembus dimensi masa tujuh bulan yang lalu,tepatnya bulan agustus di hari ke sepuluh. Ibu ku mengerang kesakitan di kamar ketika aku pulang bersama temanku, temanku berasal dari lamongan, dia ikut ke rumah karena baru saja mendaftar kuliah di malang dan aku yang mengantarkannya). Tidak seperti biasanya, ibuku yang selalu menyambut hangat kedatanganku dan teman-temanku (disertai dengan cipika-cipikinya), hari itu cuma menemuiku sebentar dan memohon maaf kepada temanku kalau saat itu tidak bisa menghormati tamu dengan baik.
Aku sadar..Ibu pasti sedang sakit, meskipun cemas aku tidak berbuat apa-apa, bingung memikirkan keadaan ibu en temenku yang lagi membutuhkan pertolonganku. Keesokan paginya aku terpaksa meminta kakakku mengantar temanku pulang (*seolah mengusir) sedangkan aku ditemani kakak sepupuku membawa ibu ke rumah sakit.
Sesaat di UGD ibuku diperiksa sedangkan aku mengurus segala tetek bengek administrasi dan mengantarkan sample darah ke laboratorium. Setelah hasil test darah keluar dokter memvonis bahwa ibu terkena serangan jantung, diabetes, dan darah tinggi, serta penyakit lain yang saat itu belum ter-diagnosa, yang dua hari kemudian diketahui bahwa itu adalah penyakit usus buntu yang menyebabkan ibuku harus menjalani operasi, kombinasi penyakit alias komplikasi yang cukup berbahaya.
Mendengar vonis dokter dan erangan ibuku yang begitu memilukan, saat itu ketenangan hatiku hampir retak dan pecah berganti kesedihan dan penyesalan… menyesal karena perasaan bersalah merasa kurang memperhatikan ibuku, sedih karena takut kalau waktu kebersamaanku dengannya… ahh..aku bahkan tidak berani memikirkannya…
Selama empat tahun terakhir aku memang terlalu asyik dengan padatnya aktivitasku, bekerja sambil kuliah membuat sehari 24 jam, seminggu tujuh hari terasa kurang bagiku, aku berusaha menembus batas waktu. Seringkali aku hanya tidur selama 20 menit sekedar untuk melemaskan urat syarafku setelah semalaman bekerja (shift malam), mandi, makan seperti orang kesetanan, kemudian melanjutkan tidurku di dalam bus selama dalam perjalanan dari Gempol ke Kota malang (itupun kalo mendapatkan tempat duduk), bukan perjalanan ke rumah, tetapi ke kampus tercinta, mengejar cita-cita, yang hingga detik ini masih berwujud cita-cita.
Saat itu, bagiku kuliah merupakan saat refreshing setelah penat bekerja. Pelajaran dari Bapak Ibu dosen seolah mencairkan kembali otak kiri ku yang hampir membeku, perjuangan luar biasa yang kulalui benar-benar menempa otak kanan dan hatiku. Aku yang dulu melalaikanNYA, kembali takluk dalam belaian kasihNYA manakala aku merasa bahwa dunia tak lagi punya rasa iba, saat derita mendera, saat asa kurasakan hanya akan menjadi asa dan semua akan sia-sia, saat dada ini kurasakan sesak, buncah dan hanya menghasilkan butiran-butiran kristal disudut mata.
Tak jarang rasa iri menyergap hatiku, kenapa untuk kuliah saja, aku harus melalui perjuangan sehebat ini?? Rasa iri itu begitu halus menyelusup ke dalam lubuk hatiku. Kenapa aku tidak seperti remaja lainnya, yang bisa bersantai ria, menikmati masa muda. Perasaan itu menekanku dengan sangat kuat manakala aku melihat sekumpulan remaja bermain basket, jalan-jalan, berdiskusi, mengikuti seminar, membaca papan informasi tentang berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM), melihat orang-orang yang dengan santainya membaca buku di perpus, seolah-olah mencermati setiap susunan huruf, menikmati setiap rangkaian kata, memahami setiap sulaman kalimat, berusaha menahan semua yang masuk ke kepala agar tetap di kepala…Ah..saat itu aku begitu iri…
Sejak kecil aku memang telah berikrar bahwa aku akan melanjutkan ke jenjang tertinggi dalam hierarki pendidikan, bahkan aku pernah mengatakan ingin menjadi Doktor, padahal saat itu aku tidak tahu bahwa gelar Dr merupakan gelar akademik tertinggi dan untuk menjadi Dr harus menempuh jenjang strata 1, strata 2, dan strata 3. Aku juga tidak tahu bahwa selain gelar akademik ada gelar kehormatan seperti professor dan guru besar. Mungkin ikrarku itu menyerupai ikrar Khairul Azam dan berakhir sama pula dengannya, yaitu menimba ilmu dari Universitas Besar Kehidupan.Tapi aku tak sehebat Khairul Azam yang dapat membiayai kehidupan keluarganya dan dapat menghafal Al Quran. Jangankan menghafal, mengkhatamkan dalam setahun aja bisa dihitung tanpa bantuan jari tangan,,,memalukan, yang begini masih mengaku muslimah sejati???
Seiring berjalannya sang waktu, akupun mulai mengkompromikan mimpi-mimpiku, bukan karena putus asa, bukan karena tak yakin dapat meraihnya, akan tetapi karena aku tak tahu kenapa aku menginginkannya. Aku hanyalah gadis biasa, impian terbesarku adalah menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama. Tapi bagaimana caranya? Jawabannya masih di ujung sana, dan hingga helaan nafasku ketika jemariku menekan key board note book ku menulis kalimat ini, aku masih belum tahu jawabannya, tapi aku akan tetap memelihara asa dalam jiwa dan berusaha mewujudkannya, agar kelak ketika aku menghadapNYA, aku dapat memandang keindahan cahayaNYA.
to Be Continued
2 komentar:
semoga ibunya cepat sembuh ya...
dan semoga Allah SWT selalu memberikan ibu lindunganya dan kesehatannya...
salam hangat.
ricisan
@HarvestMoon, Aamiin:) thanks ya.. Alhamdulilah ibu sekarang sudah lebih baik... Semoga Allah SWT juga memberikan perlindungan dan kesehatan bagi Ricisan sekeluarga..Aamiin.
Salam hangat jg
Posting Komentar