Minggu, 11 April 2010

Selamat Jalan Mbak Rina, kakakku, sahabatku, inspirasiku...

Siang itu, setelah shalat dzuhur menjelang bel tanda masuk dan mulai bekerja (*di PT. JAI), di akhir bulan oktober 2009, temanku (*mbak Ira) menyampaikan kabar bahwa mbak Rina telah tiada. Dia menyampaikan berita itu dengan nada tidak percaya dan (*seolah) menuntut kepastian. Aku terkesiap, kaki dan tanganku tiba-tiba menjadi dingin, pori-poriku menjadi berbintil-bintil seperti sedang berada dalam ruangan bersuhu 15 derajat celcius, hatiku berdebar dan suara-suara disekitarku terdengar sengau. Tentu aku tak mampu berbicara apapun apalagi memberi kepastian tentang kebenaran berita itu, satu kalimat yang keluar dari bibirku “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”, diiringi sebersit harapan bahwa berita ini adalah suatu kebohongan atau seperti surat salah alamat, atau seperti telepon salah sambung atau lelucon keterlaluan, meskipun akhirnya harapan hanyalah harapan, berita itu bukan suatu kebohongan, dan tidak pula salah alamat serta bukan lelucon keterlaluan, karena yang dimaksud mbak Rina memang sahabatku sekaligus inspirasiku, yang telah mengajarkan banyak hal padaku.

Lagi pula siapa yang mau bercanda dengan hal-hal semacam itu?? Hal paling sakral dan misterius kalau tidak mau dikatakan menakutkan. Kalau bisa sebagian besar manusia memilih untuk tidak mati, dan bahkan mendengar kata mati saja suasana hati bisa kacau, atau kalau bisa kata mati, meninggal dan sinonimnya dihapus dari perbendaharaan kata dari seluruh bahasa di dunia. Manusia ingin hidup abadi seperti Khaliknya. Abadi merupakan suatu kata yang menjelaskan tentang sifat Sang Khalik yang sama sekali tidak boleh ditiru, diingini, diangankan, apalagi dicita-citakan oleh makhluk_ini adalah aturan saklak dan tidak boleh diganggu gugat. Siapapun yang melanggar aturan ini maka akan menjadi tokoh antagonis dalam kehidupannya, seperti the lord voldemort yang sampai rela memecah jiwanya menjadi tujuh bagian (*horcrux) agar ketika ia tewas bisa bangkit kembali dengan nyawa cadangannya itu. Tujuannya apa lagi kalau bukan ingin hidup abadi. Kok jadi ngelantur gini ya???

Sekitar dua tahun yang lalu mbak Rina pernah bilang bahwa hidup terlalu lama adalah hal yang menakutkan, karena dosa tiap hari kian bertambah, namun untuk menghadapNYA sekarang juga tak kalah menakutkan karena masih belum punya “sangu” (*bekal). Di sms terakhir yang kuterima, mbak Rina menasihatiku agar senantiasa istiqamah mendekatkan diri padaNYA dan memohon jodoh yang mantap di hati, karena apapun kekurangannya jika hati sudah mantap maka “enak” menjalaninya. Nasihat seperti itu memang sering disampaikan padaku saat kami masih bersama, sebelum dia menikah yang membuatnya harus resign dari perusahaan tempat kami mencari nafkah dan menimba ilmu bersama.

Sekelebat bayangan tentang keistiqamahannya, keceriaannya, kehalusan tutur katanya, senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya yang tampak bercahaya, membuatku merindukan saat-saat bersamanya. Tak ada pembicaraan yang tidak bermanfaat, tidak akan terdengar celaan, ghibah, apalagi fitnah, membuatku tentram bersamanya. Satu hal lagi yang membuatku kagum padanya, ketika bel tanda istirahat berbunyi, dia akan langsung meninggalkan pekerjaannya dan berjalan secepat mungkin (*kalau tidak bisa disebut setengah berlari) menuju kantin kemudian ikut antri berdesak-desakan mengambil jatah makan malam, karena kalau tidak cepat-cepat maka harus bersabar dalam antrian yang mengular. Aku sendiri paling malas dengan yang namanya berdesakan, apalagi kalau itu untuk mengambil makanan_malu_meskipun aku juga tidak tahu mengapa harus malu (meskipun tahu aku juga tidak akan mengungkapkan alasanku, yang jelas aku lebih suka berbaris dengan tertib atau duduk-duduk menunggu antrian usai). Setelah mendapatkan rantang makanan mbak Rina akan langsung menuju kursi kosong dan makan dengan sangat cepat, tanpa berbicara kecuali jika ada yang menyapanya atau bertanya padanya. Selain itu dia makan tanpa menyisakan sedikitpun, tentu saja bukan karena sangat kelaparan melainkan karena ingin menghidupkan sunnah Rasul dan ingin segera qiyamul lail.

Hal lain yang tak pernah kulupakan tentangnya, disaat shalat mbak Rina selalu menangis, entah apa yang membuatnya seperti itu, mungkin rasa takutnya yang begitu besar terhadap Rab, harapan-harapannya dan kecemasan-kecemasannya. Yang jelas aku selalu berusaha sepertinya, meskipun hingga saat ini kurasakan betapa kecil takutku padaNYA, betapa sedikit sekali aku mengingatnya, betapa hati tiada bergetar manakala kudengar atau bahkan kulantunkan ayat-ayatNYA. Derai air mata yang membasahi wajah dan mukenaku ketika shalat kurasakan sebagai akibat dari kesedihan hatiku, kekacauan perasaanku, bukan karena rasa takutku, cintaku, harapanku padaNYA, serta kecemasanku akan akhir masa.

Setidaknya, (*dalam sejenak) kepergiannya semakin menyadarkanku bahwa aku telah menyia-nyiakan waktu, padahal setiap detik merupakan detik-detik menuju hari pertanggung jawaban. Setiap helaan nafas ini merupakan bilangan pengurang dari jatah nafas yang telah ditetapkanNYA untukku. Sangat tidak mustahil jika detak jantung ini secara tiba-tiba menjadi detak terakhir, padahal anggota tubuh ini sedang bermaksiat kepadaNYA. Juga sangat mungkin bahwa tulisan ini adalah tulisan terakhirku, dan yang terakhir ku posting, Ah…namun mengapa mengerjakan dan mengajak pada kebaikan serta mencegah kemungkaran terasa begitu berat, padahal aku menyadari semua itu.
Aku jadi menyesal tidak menelponnya, beberapa bulan sebelum dia meninggal terlintas keinginan yang cukup kuat untuk menelponnya namun aku selalu menunda-nunda hingga kesempatan itu telah tiada. Semoga ini menjadi pelajaran berharga agar aku senantiasa bersegera dalam kebaikan dan menjaga silaturrahmi dengan sahabat-sahabatku semua.
Semoga kepergiannya adalah menuju tempat yang lebih baik dan dia dicatat sebagai seorang syuhada’ yang gugur di jalan Allah dalam perjuangannya melahirkan seorang penerus cita-cita. Bayi mungil yang tak sempat menatap cahaya wajah ibunya itu semoga kelak menjadi manusia yang berguna bagi Agama, keluarganya, masyarakat, Bangsa dan Negara. Semoga bayi yang belum sempat merasakan nikmatnya air susu ibu, hangatnya belaian kasih ibu, dan dahsyatnya do’a ibu, menjadi ladang amal yang senantiasa menghasilkan pahala untuk menemaninya di alam sana. Selamat jalan mbak Rina, selamat jalan kakakku, sahabatku, inspirasiku, semoga kau tenang disisinya dan semoga kelak aku menyusulmu dalam keadaan yang khusnul khatimah. Aamiin.

6 komentar:

keAcehan mengatakan...

saya turut berduka cita ya yuki..
sabar n tabah ya yuki...
setiap insan manusia pasti akan kembali, walaupun sangat sulit untuk menerima semua yang terjadi, namun iutlah kenyataan...
tiada satupun peristiwa maupun kejadian yang tidak disertai oleh kehendakNya..

kita doakan, semoga mba rina mendapat tempat terbaik disisiNya..

amin...

YUKI mengatakan...

Aamiin...,
iya, thanks ya.. ^_^

mayank mengatakan...

saya pernah baca jika meninggal karena melahirkan maka akan masuk surga..amin...

untuk segala doa yuki
Amin...ya Rabb
semoga perbuatan yang dulu mb rina lakukan bisa jadi contoh yang baik amin

YUKI mengatakan...

@Maiank: iya, thanks ya..

aamiin untuk doanya, jazakillah ^_^

Tjuandha mengatakan...

innalillahi wainnailaihi rajiun,
sabar yah mbak! insya allah beliau tenang di alam sana. Saya juga selalu ngeri loh dengar kata kematian, tapi setidaknya postingan mbak yuki membuat saya kembali ingat, kalau mati itu undeniable dan datangnya misterius.

yuki mengatakan...

@tjuandha: iya, makasih ya... Aku juga ngeri jg membayangkan bakal seperti apa kelak setelah kehidupan yang kujalani saat ini.Sebuah babak baru yang mesti kita jalani dan tdk dpt kita lari darinya.

Maaf ya komentarnya br dimoderasi, udah satu setengah bl lebih vakum dr blog, fb dll, lg konsentrasi dgn tugas br di kantor. Ini bs buka blog karena lg sakit n istirahat d rmh, jd dimanfaatkan sekalian..hehe..meski modemnya lemot minta amplop..eh.. kok?? iya, minta ganti yang cepet gt...

btw makasih ya bwt post card nya, keren.. ttg postcard ini sebenarnya aku udah nulis sesuatu, kl sdh sempat ntar tak posting dech..


thanks ya commentnya... ^_^